[Fiksi] Hitamku, Putihmu

#31HariMenulis Komunikasi UGM. Senin, 17 April 2017.

***

Hei, lihatlah! Raja dan Ratu itu. Saling bertukar pandang. Sangat dekat. Terlihat sangat serasi. Lalu, bagaimana sekarang? Akankah ada seorang pemenang di antara mereka? Tidak, mereka saling diam. Untuk saling menegur sapa pun enggan. Lalu, apa makna jarak sedekat itu? Menunggu tangan-tangan tak berhati memisahkah? Tidak, sepertinya mereka cukup senang dengan pemandangan itu. Menunggu waktu memisahkan? Tidak, bahkan waktu pun tak akan setega itu. Namun, bukankah seharusnya mereka mencemaskan satu hal? Apa gunanya jika mereka tercipta berbeda? Hitam dan putih.

***

Raja

            Aku melihatmu. Dalam diam, aku melihatmu. Dalam bising, aku melihatmu. Dalam sunyi, aku melihatmu. Aku hafal betul lekuk wajahmu. Bahkan, caramu tersenyum, caramu berkedip, caramu bernapas, caramu berdiri. Apapun. Tak luput dari penglihatanku. Aku selalu sedekat ini denganmu. Tidakkah kau mengingatnya?

            “Ada di mana aku sekarang?” pintamu begitu aku menuntunmu pergi.

            Di mana pun kau sekarang. Jangan pernah ragukan kesetiaanku. Kau tak pernah luput dari ingatanku. Tidakkah itu cukup meyakinkanmu? Kau tak perlu risau, apalagi memikirkan keselamatanmu. Jangan remehkan aku yang terlanjur luluh ini. Kau mengerti?

            “Apakah tempat ini indah?”

            Lebih dari indah. Kau berada di tempat yang sewajarnya. Kau bisa membayangkan khayangan atas definisi tempat ini. Bukankah itu tempat asalmu? Yang menawarkan keindahan tiada tara seperti yang ada pada dirimu. Jangan takut, kau tak akan terjatuh sekalipun kau berada di khayangan sungguhan. Kau tahu mengapa? Kita punya sayap itu.

            “Apakah kau berada di depanku?”

            Aduhai, mengapa kau masih tanyakan lagi? Apa kau tak bisa merasakan hembus napasku ini? Atau mendengar debar jantungku ini? Mungkin aku masih kurang dekat. Aku takut kau tak mengizinkan aku jika aku terlalu dekat. Biarlah aku bertahan pada jarak seperti. Tak kurang, tak lebih. Namun cukup untuk untuk dikatakan “dekat” denganmu.

            “Apa kau akan meninggalkanku di sini?”

            Aku berani bersumpah akan mengutuk diriku seumur hidup jika aku melakukannya. Kau bisa memilih kutukan yang cocok untukku. Kutukan untuk tidak melihatmu sepersekian detik saja bagiku sudah terlalu berat. Bagaimana mungkin aku sanggup? Sudahlah, itu tak perlu kau tanyakan lagi. Aku selalu di sini.

            “Aku menyerah, tidak mampu menebak tempat apa ini?”

            Sudah kukatakan, kau hanya perlu menurut dan mengatur debar jantungmu. Rasakan keindahannya. Tak perlu susah-payah memandangnya. Hanya rasakan. Nyaman bukan? Apa kau merasa “hidup” sekarang? Apa kau merasa “pulih” sekarang? Inilah aksiku atas keluhan jenuhmu tempo hari. Menyenangkan?

            Aku menjawabnya lewat hembus angin yang menerpa.

***

            Ratu

            Sungguh, ini bukan kuasaku. Ini kuasamu ke mana hendak membawaku pergi. Demi itu pun aku menurut. Aku hanya mampu mengabulkan apa mintanya hatiku saja. Untuk urusan membahagiakan, kaulah yang berwenang. Dan untuk saat ini, hatiku hanya minta bertanya. Atas apa yang tak mampu ku terka lagi.

            “Pelarian mana yang paling tepat untuk kejenuhan ini?”

            Pertanyaanku tempo hari. Kau pun menjawabnya dengan belaian. Aku hafal betul apa maknanya. Jangankan tersenyum manja, kau malah memperparah kejenuhanku. Kau tiada bosan-bosannya mengulang adegan itu. Aku bisa saja meneriakimu apa mauku. Tapi aku tak yakin kau sanggup membendung air matamu setelah itu.

            “Bawa aku ke suatu tempat, dan ceritakan seberapa indah tempat itu!”

            Begitu ucapku. Entah, mengapa aku suka sekali memaksa. Tapi aku benar-benar pasrahkan saja pada apa katamu. Kau bisa saja berbohong, terlampau mudah malah.  Namun aku tak pernah lupa menagih kesetiaanmu. Jika kau tega, lakukanlah. Aku juga tak punya daya untuk tidak percaya.

            “Di sini terlalu sempit untuk kita berdua. Entahlah, mungkin karena dipenuhi oleh komentar orang.”

            Lagi-lagi aku mengujimu dengan keluhan. Semakin membuatmu tak berdaya. Lama-lama, tak tega juga aku padamu. Kuputuskan untuk memberimu kesempatan mengatur napas. Sepertinya, kau juga sudah paham apa inginku. Aku tahu kau layak diandalkan. Jadi, aku pun menunggu. Mengembalikan letak hubungan ini dari ambang batas.

***

            “Apa yang membuat kita sedekat ini?”

            “Takdir Tuhan.”

            “Aku merasa ada kelucuan dalam hubungan kita.”

“Katakan saja.”

            “Aku tahu kita sudah sangat dekat. Saling mempunyai rasa satu sama lain. Kau pun sudah membuktikan kesetiaanmu, terlampau sering. Kita banyak menghabiskan waktu berdua. Bersandiwara seakan-akan hubungan kita ini normal-normal saja. Aku pun menikmati setiap adegan sandiwara itu. Karena aku menyayangimu. Bukankah seharusnya aku bahagia? Tapi ini lucu. Bagaimana mungkin aku bisa-bisanya merasa bahwa… Aku tak mengenalmu?”

            “Maafkan aku. Aku terlanjur memerangkapmu dalam hidupku. Aku tahu aku egois. Sehingga kau harus masuk ke kehidupan yang sepi, sunyi, senyap, hening, dan kosong. Aku bisa melihatmu, aku bisa menyentuhmu, mendengar permintaanmu, dan mengabulkannya. Tapi tidak untuk melantangkan pernyataan cintaku. Memujimu dengan suara serak pun aku tak mampu. Aku tak butuh kau kenal, yang kubutuhkan hanyalah kau maklumi. Maaf, aku bukan orang yang beruntung. Maklumilah.”

            “Barangkali pertanyaan itu sungguh tak berhati. Aku pun demikian. Aku bisa mendengarmu, menyentuhmu, merasakan kehadiranmu, tapi aku tak mampu mendefinisikan tatapanmu. Namun, kau lah dunia bagiku. Meski aku tak pernah melihat dunia ini sekalipun, kau mampu membuatku beranggapan bahwa dunia ini menyenangkan dan indah. Hal yang belum pernah kudapat selama ini. Hal yang tak pernah orang lain berikan. Ampuni aku atas segala kenyamanan yang kurasakan setiap bersamamu. Kau adalah bagian dari duniaku, juga hidupku,”

            “Kita sungguh hebat. Ketidaksempurnaan kita mampu menakhlukkan segalanya.”

            “Dan hati kita tetap teguh mempertahankan rasa.”

            “Namun sayang, sekat-sekat pada kotak tempat kita berpijak ini menjadi jurang.”

            “Dan tak pernah mau mengalah demi bersatunya kita.”

***

            Apakah itu kisah yang menarik? Sungguh, Raja dan Ratu itu memang jagonya bertahan. Akulah saksi setiap pernyataan cinta mereka. Akulah papan tempat mereka berpijak. Yang hanya menawarkan dua warna. Hitam dan putih. Orang-orang bilang, hitam dan putih saling berebut kemenangan, tidak akan ada yang bisa menyatukan mereka hitam dan putih. Terlalu kontras, terlalu bertolak-belakang.

            Jika Raja dan Ratu itu mulai beradu keromantisan, akulah yang mereka caci, dihujat mati-matian. Orang-orang itu mengutuk. Memukul. Mengamuk. Tak karuan. Aku papan yang penuh dengan kutukan orang. Hingga jika kutukan-kutukan orang itu disusun, ia mampu menyambung, membentuk sebuah sekat. Yang memisahkan tiap kotak hitam-putih itu. Mengenaskan. Mengapa aku mendapatkan bagian yang ini? Tapi bukankah bertahan dengan berpijak di atasku itu lebih sulit dari apapun? Entahlah.

            Dan saat itu, untuk pertama kalinya, aku mendengar sesuatu yang mencengangkan sepanjang masa. Bersumber dari warna Raja hitam dan Ratu putih itu. Tunggu, apa katanya?

            “Akulah Ratu yang buta.”

            “Akulah Raja yang bisu.”

            Dan mereka ingin hidup bersama selamanya? Mungkinkah?

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s