[Fiksi] Titik Pertemuan

#31HariMenulis Ilmu Komunikasi UGM. Selasa, 18 April 2017.

“Kau yang terlambat menoleh ke belakang. Aku yang terlalu sibuk mendefinisikan rasa. Kepada bayangmu aku berbisik. Namun kau dapati ragaku untuk bersandar. Aku yang memulai kisah ini dengan ilusiku. Tentang aku yang meradang karena rindu. Tentang kamu yang tak terjamah oleh rasaku. Kuhidupkan lentera bagi asaku. Dengan lancangnya kau redupkan demi bahagiamu. Aku meraung dalam diamku dan kau tuli akan rasaku. Selalu begitu. Kau rangkai fatamorgana sempurna dalam kebersamaan kita. Kuterbangkan harapan sebagai balasan dan kandas saat senja menyapa. Menghempaskan diriku yang terlanjur lenyap dalam pesonamu. Aku tak pernah pantas menyandingmu dan kau yang terlalu sempurna untuk kumiliki.”

***

            Ningsih masih sibuk membersihkan sisa-sisa make up dari wajahnya. Sesekali ia menyeka peluhnya yang membasahi wajahnya. Sembari itu juga, ia tak jarang mengedarkan pandangan ke teman-teman sesama penarinya yang lalu lalang. Ia tak habis pikir, apa yang membuat mereka rela mondar-mandir di siang terik seperti ini. Ningsih menggeleng kecil heran dengan mereka yang masih sanggup menggerakkan tubuh mereka demi membereskan properti tarian tadi. Tidakkah mereka merasa lelah setelah menari yang jelas menguras tenaga mereka, demi penuhnya kotak sawer tadi?

            Masih berkutat dengan cerminnya, seseorang menyentuh bahu Ningsih. Begitu lembut dan begitu dikenal oleh Ningsih, “Sudah makan?” suara berat itu berkata.

            “Belum, Mas,” jawab Ningsih sama lembutnya.

            “Nih Mas Panji bawain gudeg… dimakan, ya,” ujar Panji sambil menyodorkan sebuah kotak besek berisi nasi gudeg kepada Ningsih.

            “Waaah… tahu banget, sih, Mas! Nuwun ya, Mas. Mas sendiri udah makan?”

            “Udah tadi…”

            Asik bercengkrama dengan kekasih tiga bulannya itu, Ningsih tak lagi begitu merasa terganggu dengan teriknya matahari. Pertemuan mereka yang tak terduga, ternyata telah menghadirkan rasa satu sama lain. Ningsih yang senang menari, saat itu dibujuk oleh salah seorang temannya untuk bergabung di Joget Sawer Keliling ini dan tak sengaja bertemu dengan Panji, pendiri dari kumpulan Joget Sawer Keliling ini. Sejak saat itulah kebersamaan mereka semakin mendekatkan mereka.

            “Ey, udah berduaan aja,” Aji, rekan Ningsih menghampiri mereka. Bukan seorang penari, melainkan pemain gamelan.

            “Pisan-pisan wae kok, Ji,” Ningsih menimpali.

            “Pisan-pisan piye to, Ning. Sering banget gitu sampe bosen liatnya,” canda Aji. “Oya, Ning, tadi aku nemu ini di kotak sawer,” ujar Aji sembari menunjukkan selembar kertas yang dilipat rapi membentuk persegi panjang.

            “Opo kuwi, Ji?” tanya Ningsih.

            “Ora reti aku, Ning. Tapi kayaknya buat kamu, jadi aku ndak berani mbukak,” ucap Aji menyerahkan lipatan kertas itu ke Ningsih.

            “Yowes, palingan ya temenku di desa yang tadi nonton. Nuwun yo, Ji,” Ningsih menerima kertas itu.

            “Oya, Ning. Kalo kamu kenal sama orang yang ngasih kertas itu, tolong bilang ke dia, besok lagi kalo mau masukin ke kotak sawer tu mbok ya masukin duit, jangan cuma kertas! Hahaha…” canda Aji sebelum berlalu.

***

Ningsih, apa kabar?

-Iwan-

Ia tak banyak bicara hari ini. Bukan hanya hari ini, namun sejak kemarin, setelah ia membaca tulisan yang ada di kertas yang sengaja diselipkan di antara lembaran uang kertas di kotak sawer. Kertas yang hanya bertuliskan satu kalimat untuk Ningsih. Namun begitu mendalam bagi dirinya. Cukup mampu untuk melemparnya kembali ke masa lalu. Yang sarat akan kehadiran seseorang yang pernah ada, kemudian menghilang. Seseorang yang selalu berharap dibalik pandangan Ningsih. Seseorang yang selalu menyembunyikan debaran jantungnya dari Ningsih. Ya, tak salah lagi.

Hari ini, Ningsih tidak dapat jatah untuk menari demi penuhnya kotak sawer. Ada temannya yang akan menggantikannya. Siang ini, masih bersama terik yang sama seperti kemarin, Ningsih membenamkan dirinya di kursi panjang di teras rumahnya. Tatapannya kosong dan pikirannya melayang jauh entah kemana. Entah sudah berapa jam ia duduk di sana. Ia tak peduli.

“Ning…” suara berat itu membuayarkan lamunan Ningsih.

“Eh… Mas Panji? Kenapa, Mas?” Ningsih berusaha menyembunyikan rasa kagetnya dan segera berdiri.

“Ini, Mas cuma mau ngasih ini ke kamu, Ning,” ujar Panji seraya menyodorkan kertas yang dilipat kecil itu. Persis seperti yang diberikan Aji kemarin.

Ningsih tak karuan. Ada rasa takut bila Panji sudah lebih dulu membaca isi kertas itu. “Mas udah baca?”

“Belum, kok.”

Senyum lega mengembang di bibir Ningsih, “Nuwun ya, Mas. Oya, masuk dulu, Mas, duduk dulu…” Ningsih mempersilakan.

Panji mengikuti kata-kata Ningsih tanpa komentar. Saat Panji sudah lebih dulu masuk ke ruang tamu rumahnya, Ningsih menyempatkan diri untuk membuka kertas di tempatnya. Perlahan, layaknya hendak menikmati degup jantungnya yang memburu. Hingga lipatan kertas itu terbuka sempurna.

Opo ora eling nalika semono?

Kebak kembang wangi jroning dodo.

-Iwan-

***

Ningsih mengakhiri Tari Golek ini dengan lembut. Tepat saat itu ia berhasil menangkap sesosok laki-laki yang sedari tadi menontonnya membawakan Tari Golek tanpa melewatkan satu adegan pun. Sengaja menempatkan diri di barisan belakang dan sengaja menghindari tatapan mata Ningsih. Kali ini ia menyerah untuk bersembunyi. Ia tertangkap basah oleh Ningsih yang terlihat kurang menghayati tariannya hari ini. Ningsih telah mengetahui keberadaannya.

Tanpa menunggu tepuk tangan penonton usai, Ningsih sudah dulu keluar formasi demi mengejar sosok itu. Tak dipedulikannya peluh di wajahnya yang sedikit demi sedikit memudarkan make up yang melapisi wajahnya. Sekuat tenaga ia berlari. Di bawah teriknya matahari dan langit biru cerah siang itu.

“Iwan! Iwan! Iwan!” Ningsih menyerukan nama itu.

Tak ada jawaban. Sosok yang dipanggilnya tetap melangkah tanpa menoleh.

“Iwan! Tolong berhenti! Sebentar aja tolong dengerin aku, Wan!” Ningsih berteriak memohon.

Kali ini Iwan menghentikan langkahnya. Namun masih tidak menoleh. “Wan, tolong liat aku, Wan! Aku Ningsih, Wan! Kamu masih inget aku, kan?” Ningsih mendekat dengan napas tersengal.

Akhirnya laki-laki itu pun berbalik badan menghadap Ningsih. “Apa kabar, Ning?”

“Baik, Wan,” jawab Ningsih sekenanya. “Wan, kenapa waktu itu kamu menghindar dari aku? Ningsih salah apa, Wan?” buru Ningsih, suaranya mulai bergetar.

“Ningsih ndak salah, kok,” Iwan tersenyum. “Aku yang salah.”

“Ada apa to, Wan? Kenapa kamu ndak pernah cerita apa-apa?”

“Kamu ndak perlu tahu, kok, Ning,” jawab Iwan, masih disertai senyumnya. “Ndak ada salahnya juga to, nek aku ndak nemuin Ningsih?”

“Kenapa to, kita ndak bias temenan kayak dulu lagi? Siapa yang nglarang? Aku masih butuh kamu, Wan,” tutur Ningsih, suaranya tercekat.

“Kamu tu udah ndak butuh aku, Ning. Nyatanya, sampai sekarang kamu masih bisa bahagia tanpa ada aku. Kita emang ndak bisa kayak dulu lagi, Ning, aku minta maaf,” Iwan menatap dalam mata Ningsih.

“Kenapa, Wan? Aku tu kangen sama kamu…”

“Karena… karena…” Iwan tak yakin akan mengatakan ini. “Karena… ada Panji.”

Ningsih tak percaya apa yang baru saja didengarnya, “Mas Panji? Terus kenapa kalo ada Mas Panji sekarang? Apa yang salah?”

“Kamu ndak bakal percaya.  Aku tahu ini sangat terlambat. Maaf, karena aku terlanjur salah mengartikan kedekatan kita. Maaf aku lancang sudah… tresno marang sliramu.”

Seketika itu juga, air mata Ningsih menetes dengan hati-hati.

***

Suara gamelan berlaras pelog mulai dialunkan. Ningsih yang sudah ada dalam formasi mulai memainkan jari-jarinya membentuk gerakan yang indah. Dengan keluwesan tubuhnya, ia membawakan Tari Golek kali ini dengan penuh penghayatan dari hati. Senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya mampu menyembunyikan rasa gelisahnya saat ini. Menghibur penonton, demi penuhnya kotak sawer.

 Hingga detik itu tiba. Suara gong pun menggema, dan pandangan mata mereka bertemu. Ningsih yang menatap Iwan. Iwan yang menatap Ningsih.

Saat itu pula, mereka sama-sama merasakan…

…debar jantung yang tak wajar

…gelenyar lembut di perut

…rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.

Terlambat!

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s