Kelabu

2016-11-13 01.25.59 1.jpg

Kelabu. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali melangkahkan kaki di lantai kampus Fisipol UGM ini.

Tidak, tidak. Saya tidak merasa salah jurusan atau apa. Saya diterima sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi yang saat ujian SBMPTN saya jadikan pilihan pertama berdasarkan kemauan saya sendiri. Maka, munafik namanya jika saya merasa salah jurusan.

Memang benar, saya berjuang mati-matian untuk meraih ini semua. Karena kata orang, kampus ini bukan untuk orang yang hanya pintar saja, tetapi tempat ini untuk orang yang mau berjuang. Layaknya sebuah gunung, tempat ini menuntut sebuah pendakian tanpa lelah untuk bisa meraih puncaknya. And now, I did it.

Euforia itu nyata ada, tidak bisa saya elakkan. Kebahagiaan dan rasa syukur yang bertumpah ruah. Saat saya dan seluruh teman seangkatan saya disambut sebagai Gamada Fisipol, lebih tidak terbayang senangnya. Cita-cita dan masa depan seolah nampak menjanjikan kepada kami yang sedang berbahagia saat itu.

Namun, euforia akan berbahaya jika terus bertahan terlalu lama, karena akan membuat orang terlena. Jadilah setelah itu, hadir perasaan lain. Kelabu. Penuh keragu-raguan. Entah datang dari mana. Membuat kaki saya tidak semantap saat menapak pertama kali. Memaksanya untuk meraba dulu, baru menapak. Seperti khawatir akan ada sesuatu yang rusak, jika salah menginjak.

Kebahagiaan sedikit demi sedikit beralih menjadi kekhawatiran. Jika mengingat amanah yang diemban, saya sedikit gelisah. Akankah saya dapat menjadi apa yang bangsa ini harapkan? Dapatkah saya menjadi agent of change yang sejati? Mampukah saya menuntaskan tanggung jawab saya sebagai mahasiswa dengan baik? Dan segala pertanyaan lain yang terus membayang. Bermuara pada satu keluhan: kelabu.

Kelabu tidak selamanya mengarah pada keputusasaan. Tergantung bagaimana menyikapinya. Kelabu menurut saya merupakan sebuah ambang batas. Kelabu bisa berakhir menjadi pudar lalu hilang, tetapi juga bisa memekat dan berubah menjadi warna yang tegas dan semakin nyata.

Namun, saya sadar bahwa the time couldn’t be repeated dan apa yang harus saya lakukan adalah menghadapinya. Mengubah kehidupan kelabu saya menjadi sesuatu yang pasti, tegas, dan nyata. Di sini, saya dipertemukan dengan orang-orang hebat dengan latar belakang yang beragam. Membuat saya tidak lagi berpikir satu pandangan. Membuka mata saya, batin saya, dan pikiran saya. Dari mereka, saya menemukan keyakinan bahwa kelabu itu pasti bisa menjadi kepastian. Bahwa harapan itu masih ada. Tidak perlu berlari hengkang, cukup dengan berikhtiar dan berpegangan pada tujuan.

Lingkungan yang kompetitif namun bersahabat. Itulah yang saya pada minggu-minggu pertama saya mulai rutin melewati taman sanshiro kampus Fisipol UGM ini. Orang-orang hebat di sini mengajarkan saya bahwa dunia ini mempunyai cukup banyak permasalahan, tetapi juga menyimpan penyelesaian yang melebihi permasalahan itu sendiri. Sekaligus mengajak saya untuk terus berproses dan berprogres supaya tidak tertinggal di belakang.

I’m born this way. Itulah yang saya tekankan pada diri saya. Saya sadar bahwa berbagai kesulitan yang saya hadapi bukan berarti saya salah jalan. Wajar bila permulaan itu selalu terasa sulit. Dan hingga detik saya menuliskan kisah ini, saya masih dibayangi oleh berbagai pertanyaan itu. Kini, saya sedang berusaha sedikit demi sedikit memupuk rasa kelabu saya dengan semangat positif untuk mempertahankannya menjadi nyata sempurna.

Di Fisipol UGM, saya tidak sendiri.

Di Fisipol UGM, saya belajar.

Di Fisipol UGM, saya ditakdirkan.

Minggu-minggu pertama saya di UGM tidak saya lalui dengan mulus, tetapi saya sangat menikmati setiap prosesnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s