Review Novel “Winter in Tokyo”

Review Novel “Winter in Tokyo”

(Image taken from:

http://www.fiksimetropop.com/2008/10/ilana-tan-winter-in-tokyo-cinta-pertama.html)

Identitas buku

Judul               : Winter in Tokyo

Penulis             : Ilana Tan

Penerbit           : PT Gramedua

Tahun terbit     : 2012

Tebal               : 313 halaman

Sinopsis

Novel Winter In Tokyo menceritakan kisah cinta Ishida Keiko dengan Nishimura Kazuto. Kazuto yang merupakan seorang fotografer terkenal di New York memutuskan untuk pindah ke Tokyo karena ingin melupakan mantan kekasihnya yang hendak menikah dengan pria lain. Kesedihan Kazuto mengantarkannya ke sebuah apartemen sederhana di Tokyo. Di apartemen itulah ia pertama kali bertemu dengan Keiko yang merupakan tetangga samping apartemennya.

Awalnya, Keiko merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kazuto sebagai tetangga barunya karena bagi Keiko, Kazuto adalah orang yang jahil dan tidak mau mengalah. Namun, lama-kelamaan Keiko bisa mulai menerima Kazuto dan menyadari bahwa Kazuto tidak seburuk yang ia bayangkan. Keiko dan Kazuto menjadi teman baik dan menambah kehangatan pada kekeluargaan di antara penghuni apartemen yang lain. Hingga akhirnya, kebersamaan mereka menumbuhkan perasaan suka di hati Kazuto.

Hubungan Keiko dan Kazuto berjalan semakin baik hingga sebuah peristiwa yang menguji kedekatan mereka. Tepat pada malam natal, usai menyaksikan pertunjukan balet, Kazuto dihadang oleh seorang pria mabuk yang mengikutinya. Pria itu menghajar Kazuto dan berakibat fatal pada Kazuto. Ia kehilangan ingatan jangka pendeknya dan menjadi lupa dengan semua peristiwa terakhir yang baru dialaminya, termasuk Keiko.

Setelah peristiwa tersebut, Kazuto tidak kembali ke apartemen selama dua minggu dan membuat Keiko khawatir. Singkat cerita, mereka bertemu kembali di acara reuni sekolah Kazuto. Saat itu, Keiko mencoba untuk menyapa Kazuto, namun Kazuto tidak mengenalinya. Kenyataan tersebut membuat Keiko sedih. Namun, walaupun tidak mengenali Keiko,  Kazuto merasa ada sesuatu yang berbeda saat ia melihat Keiko. Atas perasaan tersebut, Kazuto mau kembali ke apartemennya dengan maksud supaya ia bisa mencari jawaban atas ingatannya yang hilang dan menurutnya, orang-orang di apartemen bisa membantunya untuk mengembalikan ingatannya.

Keiko dan Kazuto mengulang dari nol lagi perkenalan mereka. Segala tantangan mereka untuk bertahan pada perasaan masing-masing akhirnya dapat mereka lalui. Mereka terus berjuang hingga pada suatu malam, Kazuto mendapatkan kembali ingatannya. Beberapa bulan kemudian, Kazuto menggelar pameran fotografi untuk karya-karyanya. Di tengah semaraknya pameran tersebut, Kazuto mengungkapkan perasaannya kepada Keiko.

Kepengarangan

Ilana Tan merupakan seorang novelis Indonesia yang bisa dikatakan sangat produktif. Karya-karyanya hingga saat ini antara lain: tetralogi empat musim (Summer in Seoul, Winter in Tokyo, Autumn in Paris, Spring in London), Sunshine Becomes You (sudah diangkat ke layar lebar), Autumn Once More, In A Blue Moon, dan Season to Remember: A Journal From 4 Seasons Tetralogy. Hal yang unik dari karyanya tetralogi empat musim, Ilana Tan membuat tokoh-tokoh pada keempat novel terebut berhubungan satu sama lain tetapi isi ceritanya berbeda. Ilana Tan juga tidak pernah mencantumkan biodata pada akhir novel-novelnya sehingga tidak ada yang tahu seperti apa sosok Ilana Tan itu sendiri. Bahkan, banyak penggemarnya yang beranggapan bahwa tokoh pada novel-novelnya lah yang menggambarkan sosok Ilana Tan itu sendiri.

Komparasi

Pada resensi ini, akan dilakukan komparasi terhadap dua novel yang sejenis, yaitu Summer in Seoul yang masih termasuk dalam tetralogi empat musim Ilana Tan dan novel Tomodachi tulisan Winna Effendi. Ketiga novel ini memiliki kemiripan pada tema ceritanya, yaitu tentang kisah cinta sepasang kekasih yang dipertemukan secara tidak sengaja. Begitu juga dengan alur ceritanya, ketiga novel ini juga menyajikan cerita dengan alur maju karena penulis menyajikan cerita secara runtut mulai dari perkenalan hingga penyelesaian.

Jika dibandingkan dengan novel yang sejenis, Winter in Tokyo dan Summer in Seoul mempunyai keunggulan dalam pemilihan kata. Saat menggambarkan situasi krusial pada cerita, kedua novel karya Ilana Tan ini lebih mampu mengundang emosi pembaca karena menuliskan perasaan tokoh secara mendetail sehingga pembaca seolah-olah ikut hadir dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh. Berikut komparasi yang saya ambil dari salah satu scene menegangkan dari ketiga novel tersebut.

            Dalam novel Winter in Tokyo:

Ia memukul-mukul dadanya dengan kesal. Astaga, kenapa ia merasa sesak? Ia begitu resah sampai ingin meninju sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya sendiri. Berusaha menenangkan diri, ia menarik napas dalam-dalam, tetapi hal itu malah membuat hatinya terasa semakin sakit dan seolah-olah akan meledak.

Saat itulah ia tiba-tiba sadar dan menyumpah pelan.

Ia, Nishimura Kazuto, telah melakukan kesalahan besar. (Tan, 2012)

Dalam novel Summer in Seoul:

Mata Tae-Woo terpaku pada layar televisi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar begitu keras. Ini tidak mungkin. Mustahil itu gedung apartemen Sandy. Siang tadi ia baru saja dari sana. Tuhan, katakanlah ini tidak benar. Namun si reporter kini menyebutkan nama dan lokasi gedung yang sedang terbakar. Darah Tae-Woo langsung terasa membeku. (Tan, 2013)

Dalam novel Tomodachi:

Amarah menguasai tubuhku, begitu besar hingga tubuhku gemetar. Tomoki sepertinya menyadari perubahan dalam raut wajahku, dan berusaha menyentuhku, tetapi aku mengibaskan tangannya dengan kasar. Tubuhku terdorong ke belakang karenanya, menghantam lemari kaset dan menyebabkan isinya jatuh berantakan. (Effendi, 2014)

Ketiga novel ini juga memiliki satu scene yang sama, yaitu saat di mana ada tokoh yang menyatakan perasaannya. Dalam mengilustrasikan scene tersebut, novel Winter in Tokyo saya rasa lebih menciptakan suasana yang romantis melalui kata-kata tokohnya. Berikut komparasinya:

Dalam novel Winter in Tokyo:

“Aku menyukaimu, Ishida Keiko.” Lalu ia menggeleng pelan. Matanya masih terpaku pada mata Keiko. “Tidak. Kurasa yang benar adalah aku mencintaimu.” (Tan, 2012)

Dalam novel Summer in Seoul:

“Apakah harus berhenti menjadi penyanyi?” Tae-Woo mengulangi kata-katanya.

“Memangnya kenapa harus berhenti?”

Tae-Woo menatap mata Sandy dan berkata, “Karena sepertinya aku menyukaimu.” (Tan, 2013)

Dalam novel Tomodachi:

“Kau hanya bilang begitu karena tak ingin menjawabnya, kan? Kau keras kepala, suka menghindar, iseng, dan banyak maunya. Tapi anehnya, aku menyukaimu.”

Dia balas tertawa. “Tomo, dengarkan baik-baik karena ini kali pertama aku mengucapkannya. Aku suka padamu.” (Effendi, 2014)

Kekurangan

Namun, terdapat beberapa kekurangan yang saya temui pada novel ini. Pertama, di awal bab novel ini perkenalan antara Keiko dan Kazuto dirasa kurang logis. Logis artinya adalah sesuai dengan logika; benar menurut penalaran; masuk akal (KBBI). Kekuranglogisan pada cerita ini adalah ketika Kazuto yang baru menjadi tetangga Keiko selama dua minggu namun Keiko sudah tidak sungkan menginap di apartemen Kazuto. Padahal, umumnya seseorang tidak akan dengan mudah langsung percaya dengan orang baru dan mengizinkan orang tersebut menginap di apartemen kita, terlebih lawan jenis.

Kedua, pada novel ini tidak memberikan keterangan tempat secara detail. Seperti saat Kazuto dan Keiko pergi makan malam, pada novel ini hanya dituliskan “salah satu restoran terkenal di Tokyo, salah restoran kesukaan Keiko sendiri,” mungkin ada baiknya jika ditambahkan sedikit keterangan seperti di Tokyo daerah mana atau seberapa jauh dari pusat kota, supaya terkesan lebih real.

Kelebihan

Secara keseluruhan, novel Winter in Tokyo sangat direkomendasikan untuk dibaca. Karena selain isi ceritanya yang menarik, Ilana Tan juga mampu menyajikan cerita dengan bahasa yang ringan namun cukup “mengena” di hati para pembaca sehingga cocok untuk usia remaja. Pada awal dan akhir cerita juga dilengkapi dengan prolog dan epilog sehingga cerita lebih hidup. Ditambah lagi dengan cover depan yang menarik dan memrepresentasikan isi cerita. Walaupun novel ini mengambil latar tempat di negara Jepang, tetapi Ilana Tan tetap mengubungkan cerita tersebut dengan Indonesia dengan mengisahkan bahwa Keiko merupakan gadis keturunan Indonesia dan ia fasih berbahasa Indonesia sehingga menambah nilai plus dari karya tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s